Tampilkan postingan dengan label Rilis game. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rilis game. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2009

Sherlock Holmes vs. Jack the Ripper




Kami ingin tahu, berapa banyak sih gamer yang tidak mengenal nama Sherlock Holmes? Sherlock Holmes adalah seorang detektif ternama yang terkenal dengan kemampuannya mencari dan menganalisa bukti-bukti yang ada. Selain itu, ia juga merupakan seorang pecandu obat-obatan, tidak suka bermain-main dengan wanita dan lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian di dalam kamar sambil melakukan riset.



Sekarang Frogwares, salah satu developer daru Eropa, sudah beberapa kali merilis game dengan menggunakan Sherlock Holmes sebagai tokoh sentralnya. Kebanyakan game yang dihasilkan, semuanya cukup menarik dan sangat menantang otak kita. Begitupula halnya dengan game terbarunya ini, dimana kali ini, kamu akan melihat seorang Sherlock Holmes berhadapan dengan penjahat berantai terkenal di dunia (dan dalam sejarah), Jack the Ripper dalam game yang berjudul Sherlock Holmes vs. Jack the Ripper.

Kisah game ini dimulai di 221 Baker Street dimana Holmes dan Watson diminta untuk membantu polisi dalam proses investigasi terkait dengan pembunuhan seorang prostitusi di Whitechapel. Karena Holmes tidak terlalu percaya dengan polisi, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba menangkap pelakunya sendiri, dibantu oleh Watson. Dalam permainan, kamu bisa mengendalikan Sherlock dan juga Watson, tergantung pilihanmu. Pergerakan karakter masih tetap sama, menggunakan tombol WASD dan kamu bisa bertukar karakter dengan menggunakan tombol R dan Ctrl+R. Kamu juga bisa memilih apakah mau menggunakan sudut pandang orang pertama ataukah sudut pandang orang ketiga.


Inti permainan disini adalah pengumpulan informasi. Kamu akan diminta untuk membantu mencari dan mengumpulkan informasi di tempat-tempat seperti bar, lokalisasi, klinik, kantor polisi dan bermacam-macam toko yang ada. Butuh banyak sekali trik untuk bisa mendapatkan informasi dari para polisi, para saksi mata yang tidak mau berbicara terus terang hingga mencoba mendapatkan informasi dengan cara menyamar. Bagi Kotakers yang pernah membaca bukunya, tentu akan tahu bahwa Holmes merupakan seorang aktor yang handal. Sering kali ia berhasil mengecoh bahkan orang terdekatnya sekalipun dengan penampilannya dan aktingnya yang apik. Sama pula halnya dengan dalam game ini. Kamu akan menemukan Holmes yang menyamar dengan cerdiknya. Tapi mungkin ada satu yang agak kurang. Logat bicara Holmes yang lebih terkesan elegan, tidak pernah dilepaskan walaupun ia sedang menyamar menjadi seorang pengemis. Mengerti apa yang kami bicarakan disini?

Tidak kalah dengan aktingnya adalah kemampuan investigasinya yang tiada duanya. Kemampuan deduksinya merupakan satu titik yang sangat ditonjolkan disini dan merupakan salah satu bagian yang paling seru disini. Kamu akan mengendalikan Holmes atau Watson, berkeliaran di sekeliling tempat kejadian menggunakan kaca pembesar, melakukan rekayasa ulang kejadian, membuat diagram dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua kegiatan ini juga akan dibarengi dengan teka-teki yang pastinya akan membuat gamer semakin penasaran bagaimana cara memecahkan teka-tekinya.

Grafik patut diacungi jempol. Semua yang ada disini terlihat detil, mulai dari penampilan Sherlock Holmes, Watson hingga bentuk barang bukti yang berhasil kamu temukan selama penyelidikanmu. Barang yang sudah kamu temukan, akan kamu temukan tergeletak dengan manis di salah satu almari yang ada. Menurut informasi, tim yang bertanggung jawab dalam pembuatan gambarnya memang sengaja membuatnya seperti itu, mengikuti gambaran referensi yang ada dalam novelnya. Bahkan lebih jauh lagi, naskah yang diberikan juga mirip dengan metode konsultasi yang digunakan oleh Sir Arthur Conan Doyle.


Dalam game ini, kamu bukan hanya disuguhkan dengan gambar dan naskah yang apik saja. Tapi kamu juga akan ditemani oleh beberapa fitur tambahan yang pastinya akan sangat membantu kamu. Fitur tersebut adalah fitur dimana kamu hanya tinggal memencet spacebar dan semua tempat yang bisa kamu ajak berinteraksi akan menyala dan kamu tidak lagi perlu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari sesuatu. Bahkan game ini juga sering memberitahukan apa saja yang perlu kamu lakukan, sehingga kamu tidak akan menghabiskan banyak waktumu hanya untuk mencari tahu tempat selanjutnya yang harus kamu kunjungi ada dimana.

Seperti biasa, sebagus apapun sebuah game, pasti akan memiliki kekurangan juga. Salah satunya adalah unsur teka-teki yang diberikan disini lebih sering terasa tidak masuk akal daripada masuk akal. Bahkan untuk voiceover, terasa kurang bagus. Animasi juga terasa agak aneh. Pasalnya, setiap kali kamu mau coba berbicara dengan Watson atau Holmes, maka nantinya karakter kamu akan berputar layaknya robot dan hal tersebut mengurangi nilai game ini sendiri.


Komentar terakhir dari kami, walaupun ada kekurangan disana sini, tapi game ini masih tetap salah satu game yang wajib untuk dimainkan. Kamu bisa membayangkan bukan bagaimana serunya pertandingan antara detektif terhebat di dunia dengan penjahat terhebat di dunia. Kira kira siapa yang menang ya? Kalau ingin tahu, mainkan gamenya. ^^


Read More... “Sherlock Holmes vs. Jack the Ripper”  »»

Jumat, 24 April 2009

Company of Heroes: Tales of Valor



Hasil ekspansi Company of Heroes terbaru ini, Tales of Valor, mungkin tidak cocok untuk disebut sebagai sebuah sekuel. Mungkin lebih cocok bila disebut sebagai sebuah game yang berdiri sendiri. Tapi patut dicatat disini, bahwa ada beberapa perkembangan yang diberikan disini yang membuat game ini cukup bagus. Kamu tidak perlu membeli Company of Heroes original-nya agar bisa memainkan game ini (salah satu sebab kenapa kami menyebut game ini sebagai game yang berdiri sendiri). Apabila dalam seri ekspansi sebelumnya, Opposing Fronts, kamu akan mendapatkan dua pasukan tambahan dan pertempuran baru yang benar-benar terasa seperti hasil pengembangan dari game orisinilnya, maka kali ini dalam Tales of Valor, kamu tidak akan mendapatkan tambahan apapun yang berarti. Yang mengagetkan adalah Relic memutuskan untuk membawa permainannya ke arah yang baru.


Perubahan disini benar-benar kentara dan semuanya bisa terlihat dari tiga mode multiplayer baru yang ditawarkan disini dimana kesemua mode tersebut lebih memfokuskan pada kerjasama apabila dibandingkan dengan game orisinilnya. Bagi para penggemar setia Company of Heroes, kamu pasti akan merasa aneh dengan ekspansi terbarunya ini. Tapi bagi mereka yang baru pertama kali memainkan game ini, mungkin saja akan menyukainya. Satu-satunya kekurangan pada hasil ekspansi disini adalah karena setiap mode hanya memiliki satu map saja yang bisa kamu mainkan.

Operation Stonewall dapat dikatakan sebagai mode yang paling tradisional apabila dilihat dari sudut desain. Kamu akan diharuskan untuk mengatur sumber daya milikmu, kemudian menggunakannya untuk bangunan baru dan memproduksi prajurit agar bisa mengadakan perlawanan terhadap musuh. Tapi yang membuat Operation Stonewall beda dari yang lainnya adalah format permainannya. Maksimal pemain disini adalah empat orang. Secara bergantian kamu diharuskan untuk bekerja sama dengan gamer lain untuk menjaga benteng tersebut. Yang menjadi titik penting kerjasama disini adalah bagaimana kah para gamer yang ikut dalam permainan ini menentukan spesialisasi karakternya.




Beda halnya dengan Operation Panzerkrieg dimana mode permainan ini mementingkan jumlah poin yang kamu dapatkan. Setiap orang dalam permainan hanya akan diperbolehkan untuk mengendalikan satu tank saja. Tank yang berbeda serta upgrade berbeda yang bisa kamu dapatkan akan menentukan peran apa yang akan kamu mainkan dalam pertempuran tersebut. Maksimal pemain dalam game ini adalah tiga orang dalam setiap tim dan masing-masing gamer bisa memilih tank yang saling melengkapi satu sama lain.

Gagasan permainan baru tersebut bahkan dibuat lebih menarik lagi dalam Operation Assault. Mode ini merupakan pertandingan 3 lawan 3 dimana setiap pemain hanya bisa menyerang dengan menggunakan satu unit saja. Tapi bedanya, kali ini setiap gamer mendapatkan kebebasan untuk memilih sendiri pasukan infantri tipe apa yang diinginkan seperti sniper, medic, officer, engineer dan yang lainnya. Kamu akan menemukan dua fuel depot di masing-masing pihak dan masing-masing fuel depot tersebut dilindungi oleh tiga baris yang terdiri dari pistol, selokan dan sarang MG. Objektif kamu disini adalah berusaha untuk menembus barisan pertahanan musuh dan hancurkan fuel depot sebelum mereka menghancurkan fuel depot-mu. Selama permainan, bentengmu akan secara otomatis mengirimkan pasukan kepadamu untuk membantu penyerangan.

Sayangnya, unit yang dikendalikan oleh komputer tampaknya memiliki action yang berbeda setiap saatnya sehingga membuat kemampuan kita untuk memperkuat prajurit yang dimiliki oleh unit hero menjadi tidak efektif. Mode Assault juga mendapatkan map yang sangat biasa sehingga kamu tidak akan bisa melancarkan strategi serangan secara lebih kreatif. Pada dasarnya, inti permainan disini hanyalah mencoba untuk menghancurkan musuh dengan menggunakan apapun yang kamu punya.

Menurut kami, untuk sebuah game yang berdiri sendiri, mode permainan single player yang diberikan terasa tidak terlalu bagus. Setiap mode baru disini hanya terdapat tiga misi singkat yang akan dilakukan di atas map yang sama dan kamu juga akan mengendalikan pasukan yang sangat sedikit.


Untungnya, desain game ini secara keseluruhan cukup menarik dan cara penceritaannya dan koneksi antar naratif diantara setiap misi terasa sangat kuat. Contohnya, pada misi pertama di campaign pertama, kamu akan dihadapkan dengan misi untuk mencari tank di Villers-Bocage. Misi kedua, kamu diharuskan untuk memimpin kru yang mengendalikan tankmu ke tempat yang aman dan dalam misi ketiga, kamu akan diberikan objektif dimana kamu harus kembali lagi ke tempat tersebut untuk membersihkan semuanya.

Tales of Valor juga menggunakan fitur baru dimana kamu akan diberikan kekuasaan untuk mengarahkan tembakan kamu ke unit yang telah kamu incar. Tapi menurut kami pribadi, fitur ini sebenarnya sama sekali tidak penting. Ekspansi terbaru ini juga memiliki unit baru, tapi sayangnya unit baru ini didesain sebagai pengganti dari unit yang telah ada.


Komentar terakhir dari kami, menurut kami Tales of Valor merupakan tambahan yang cukup bagus untuk Company of Heroes. Dengan misi yang terlalu pendek, unit baru yang tidak terlalu berpengaruh dan fitur baru yang juga sebenarnya tidak perlu membuat penilaian kami terasa lebih kurang. Yang membuat game ini menjadi menarik hanyalah tiga mode yang ditawarkannya disini. Sayangnya, setiap mode tersebut hanya diberikan satu map yang sama persis dan kamu harus memainkan misi-misi tersebut di map yang sama dan kami berani jamin hal ini akan membuat kamu bosan.

Read More... “Company of Heroes: Tales of Valor”  »»

Kamis, 26 Maret 2009

Resident Evil 5: review ketiga


Setelah memainkan Resident Evil 5 sampai tamat, rasa-rasanya tidak kekurangan yang patut dicela kecuali AI yang masih bodoh. Resident Evil 5 bisa menjadi contoh bagaimana sebuah waralaba dipertahankan, walaupun ada isu kalau Resident Evil 6 akan mereboot segalanya. Sebelum itu terjadi, mari kita memainkan Resident Evil 5 sambil menerka-nerka, kira-kira game ini akan menjadi apa di masa depan. Apakah jadi di reboot atau tidak, yang jelas Resident Evil 5 wajib dimiliki oleh siapapun pemilik konsol next-gen terutama bagi yang menyukai ketegangan dan potong-memotong zombie. Read More... “Resident Evil 5: review ketiga”  »»

Rabu, 25 Maret 2009

Resident Evil 5: review kedua


Aksi Chris dan Sheva sepanjang permainan, sangat kental dengan unsur run and gun. Saking kentalnya, sampai-sampai kami merasa kalau Resident Evil 5 banyak sekali kehilangan unsur puzzle yang dulu biasanya menghiasi sepanjang permainan. Yah walaupun run and gun yang ada di sini bukan run and gun dalam arti sesungguhnya, sebab kita harus berdiri mematung saat ingin menembak musuh (mirip dengan cara Leon menembak di Resident Evil 4). Aksi yang sangat dominan di Resident Evil 5 untungnya didukung dengan banyaknya jenis persenjataan. Kita akan berhadapan dengan senjata bilogis yang canggih, jadi tidak ada salahnya kalau kita mempersiapkan diri dengan senjata-senjata yang sedikit lebih tradisional seperti peluru, granat ataupun roket dalam jumlah yang cukup banyak. Semua persenjataan tersebut bisa kita upgrade agar lebih efektif dan menyakitkan bagi para zombie, walaupun jujur saja kami masih mengharapkan kalau Chris tiba-tiba terpeleset lidah dan berteriak Hadouken sambil mengeluarkan bola api kebiruan (Tetep! Ngarep).

Peran Sheva dalam permainan bisa diisi oleh teman, baik secara split screen, system link ataupun online. Bila kita tidak memiliki ketiganya, alias teman lagi sibuk konsol terbanned ataupun internet lemot, peran Sheva bisa digantikan oleh AI. AI Sheva cukup pintar mengikuti pergerakan kita, walaupun sangat royal menghambur-hamburkan peluru. Jadi sebaiknya belikan Sheva senjata yang cukup ampuh menghabisi musuh dari jarak dekat seperti shotgun supaya dia tidak terlalu menghambur-hamburkan peluru yang kita miliki.

Bila AI Sheva agak bodoh karena boros, maka AI musuh jauh lebih bodoh lagi. Mereka sering sekali berlari ke arah kita kemudian terdiam minta ditembak atau malah kadang mereka berlari ke arah yang tidak semestinya. Satu-satunya yang menakutkan dari para Oboros adalah kelincahan dan daya tahan yang mereka miliki pada monster tipe tertentu. Khusus untuk para Ganados, mereka lebih sering merepotkan Chris karena jumlahnya dan cara berburu mereka yang keroyokan. Jadi bisa diambil kesimpulan kalau para AI dalam Resident Evil 5 membaik bila dibandingkan Resident Evil 4, tetapi tetap tidak bisa dibilang sempurna.

Kalau ditilik dari grafis, Resident Evil 5 memiliki grafis yang sangat aduhai secara artistik maupun teknik. Ketajaman gambarnya memanjakan mata apa lagi detil lingkungannya, dijamin kamu akan terkesima dengan suguhan grafis yang dimiliki oleh Resident Evil 5. Framerate dalam game ini juga tidak mengalami drop walaupun banyak musuh yang tampil di satu layar, hal ini tentu bisa menjadi sebuah bukti kalau Capcom memang selalu memoles waralaba andalan mereka agar selalu tampil prima. Dari sisi suara, tidak ada keluhan yang berarti menimpa Resident Evil 5, paling hanya masalah dialog yang kurang ekspresif dan mengena, sisanya patut untuk dipuji. Read More... “Resident Evil 5: review kedua”  »»

Selasa, 24 Maret 2009

Resident Evil 5: review pertama


Game yang akan kami review kali ini sudah memulai debutnya di tahun 1996 dan memiliki jutaan penggemar setia yang selalu menanti-nantikan kelanjutan ceritanya. Dalam game tersebut kita akan berhadapan dengan serangan zombie dan monster-monster lainnya, pasti kalian sudah menduga game apa yang akan kami review kali ini. Yak betul sekali, game yang kami maksud adalah Resident Evil 5.

Resident Evil 5 sudah menjadi hype tersendiri di dunia game, nama besar serial Resident Evil atau Bioharzard seperti sudah menjadi jaminan mutu. Bahkan bisa dibilang serial Resident Evil tidak pernah tampil mengecewakan. Prestasi tersebut rupa-rupanya diwariskan ke Resident Evil 5 sebagai seri pertama yang singgah pada konsol next-gen sama seperti Devil may Cry 4 yang dirilis pada awal tahun 2008 kemarin.

Di Resident Evil 5 kita akan berperan sebagai Chris Redfield yang sudah menjadi anggota BSAA (Bioterrorism Security Assessment Alliance). Kali ini Chris berpasangan dengan Sheva Alomar bukan Jill Valentine. Kayaknya mentang-mentang Chris masuk ke BSAA dan memiliki waktu libur yang lebih lama dari Leon, Chris yang tampil di Resdient Evil 5 memiliki otot yang lebih kekar dan dada yang lebih bidang dari Carlos Olivera sekalipun. Saking kekar dan berototnya badan Chris, kami sampai-sampai mengharapkan Chris terpeleset lidah dan meneriakkan Tatsumaki Senpu Kyaku atau Shoryuken (abis ototnya mirip dengan milik para karakter SF IV sih!).

Selama bertualang di Afrika Chris harus bahu membahu dengan Sheva untuk melawti rintangan ataupun mengalahkan para Majini (Plagas). Nama Plagas kembali dibawa-bawa di Resident Evil 5. Jadi bisa dipastikan kalau mahluk penyebab mutasi aneh dan mengerikan yang ada di sini bukanlah virus melainkan para parasit yang dulu pernah dihadapi oleh Leon. Para Uroboros/Majini (Plagas Type 2) langsung tumbuh menjadi dewasa, tidak seperti para Ganados yang mengalami fase anak-anak, loh kok jadi spoiler ya. Yang jelas Resident Evil 5 memiliki fitur offline co-op mirip dengan serial Gears of War, fitur ini sedikit banyak menghilangkan rasa horor dan survive yang ada di Resident Evil. Tapi enggak apa-apa, toh sebagai gantinya kita akan disuguhi aksi yang intens dan ketegangan yang tidak ada habis-habisnya. Read More... “Resident Evil 5: review pertama”  »»

Minggu, 15 Maret 2009

MadWorld











Sudah banyak game-game yang mengumbar kekerasan dan juga berdarah-darah. Ambil contoh game PS2, Manhunt dan game terbaru next-gen, Afro-Samurai yang sarat akan kekerasan. Kini, giliran konsol kasual Nintendo, Wii yang mengumbar kekerasan dengan game penuh darahnya, Madworld. Tapi yang perlu dicatat, kekerasan disini bukan hanya sekedar kekerasan biasa, tetapi benar-benar memperlihatkan sebuah kekerasan yang bahkan sudah di luar batas perikemanusiaan. Salah satu contoh, kamu bisa menggunakan sebuah tongkat penuh duri, kemudian menusukkan senjata tersebut dari bawah, hingga tembus ke mulut dan menyebabkan darah bermuncratan dimana-mana. Yang menyebabkan game ini menjadi game yang terlihat penuh kekerasan adalah pengaruh dari grafik hitam putih yang digunakan oleh SEGA dalam penyajian gameplaynya. Sedangkan untuk darah, SEGA membiarkannya tetap dalam warna aslinya sehingga memberikan kekontrasan yang sangat kentara.

Tapi sudah pasti bukan ciri dari SEGA untuk hanya menyajikan gameplay penuh kekerasan dan darah. Di balik itu semua, terdapat gameplay yang menarik, ditopang dengan jalan cerita yang juga cukup seru. Secara keseluruhan, sebenarnya game ini bukanlah game yang cocok untuk segala umur dikarenakan dengan penuhnya adegan berdarah dan itu sudah sangat pasti tidak akan cocok untuk anak kecil.

Grafik merupakan sebuah titik kelebihan yang dimiliki oleh Madworld. Apa yang menyebabkan kami mengatakan demikian? Mengingat konsol Wii tidak memiliki engine yang sekuat Xbox360 maupun PlayStation 3, penggunaan desain ala Sin City dan gaya penggambaran yang mirip dengan Okami dan Viewtiful Joe membuat Madworld menjadi sebuah seni yang unik dalam dunianya. Sebagai hasilnya adalah karakter-karakter unik yang tentunya membuat kamu terpana. Musuhnya pun memiliki gaya penggambaran yang sangat bagus. Bahkan ada beberapa bos yang digambar sedemikian rupa, sehingga saat kamu menghadapinya, saking menakutkannya bos tersebut, kamu akan lebih memilih untuk kabur daripada menghadapinya. Belum pernah ada game yang penuh dengan darah seperti Madworld.

Kekerasan yang ada juga meresap sepenuhnya ke seluruh sudut terkecil dari game ini, sehingga kamu bisa melihatnya dengan jelas. Dengan adanya gaya penggambaran hitam putih, yang nantinya hanya akan dihiasi dengan warna merah, membuat setiap kali karakter utama game ini, Jack, seorang karakter misterius yang sebelah tangannya digantikan oleh sebuah gergaji mesin, membelah menjadi dua, menebas kepala musuh atau menarik keluar jantung seorang kemudian menghancurkannya, akan terlihat lebih sadis daripada biasanya. Seperti yang sudah kami ungkapkan diatas, Madworld merupakan sebuah game yang sangat teramat kejam dan brutal. Tidak heran game ini mendapatkan rating M (Mature).

Bila dedifinisikan secara harafiah, game ini dapat dikatakan sebagai game tipe beat-em up. Dalam kisah game ini, Jack akan bergerak melalui berbagai area dan menghancurkan musuh-musuh yang berada di depan mata. Tapi bukan hanya itu saja yang perlu diperhatikan disini. Tentunya akan sangat mengherankan apabila dalam game seperti Madworld, tidak memiliki gerakan penghabisan layaknya game beat-em up. Gerakan penghabisan dari Jack selalu penuh gaya dan kesadisan. Salah satu contoh, mematahkan tubuh musuh menjadi dua, membelah tubuh musuh menggunakan katana atau menggunakan gergaji mesin di tanganmu untuk membelah musuh secara vertikal. Yang juga cukup menarik disini, Platinum Games juga memberikan rangkaian gerakan penutup yang dapat dikaitkan dengan linkungan sekitar. Contoh, tempat pembuangan sampah yang ditutup dengan keras saat musuh berada di tengah-tengahnya sehingga musuh terbelah menjadi dua. Hal ini semakin menambahkan variasi permainan dan kedinamisan permainan.

Gameplay sudah pasti akan terkesan repetiti, mengingat ini merupakan game dengan genre beat-em up. Tapi, seluruh kebrutalan yang ada di dalamnya membuat permainan repetitif ini tidak membosankan. Untuk memperkecil tingkat repetitif dalam Madworld, mereka juga menciptkan beberapa cara pembunuhan yang hanya dapat dilakukan di area tertentu. Beberapa pembunuhan disini menggunakan senjata dan beberapa lagi lebih condong ke situasi. Selain itu, sebuah game tidak akan lengkap tanpa adanya mini-games untuk membuat sebuah game lebih menarik.

Kontrol yang diberikan oleh Platinum Games cukup simple dan efektif. Jack akan kamu kontrol menggunakan analog stick nunchuk dan fungsi pointer disini tidak akan digunakan untuk sistem pertarungan yang akan lebih bertumpu pada gerakan-gerakan lincah. Jack akan mengeluarkan pukulan keras setiap kali kamu menekan tombol A, kemudian menekan B_Trigger untuk mengeluarkan gergaji yang dapat ditebas secara horizontal atau vertikal dengan sedikit gerakan tangan saja. Sudah terlalu sering, sebuah game action menggunakan gerakan yang berlebihan atau menggantikan fungsi tombol dengan gerakan-gerakan tak berarti. Tapi dalam Madworld, hal tersebut tidak terjadi. Kontrolnya terasa sangat bersahabat dan responsif. Sebagai buktinya adalah gerakan utama Jack yaitu memukul yang dapat dilakukan dengan menekan tombol A dan serangan menggunakan gergaji yang dipacu dengan gerakan tangan.

Satu-satunya kekurangan yang paling terlihat disini adalah gerakan kamera yang tidak terlalu bagus. Pilihan yang bisa kamu lakukan disini terbatas. Kamu hanya bisa mengatur sudut pandang Jack ke tengah. Itu saja. Gerakan kamera disini bersifat manual sehingga kadang kamu akan mendapatkan Jack yang sedang bergerak ke arah layar. Untuk mengembalikan sudut pandangnya, kamu harus menekan arah kanan atau kiri di D-Pad. Kadang hal ini bisa membuat frustasi, apalagi saat kamu sedang di tengah pertarungan sengit dengan musuh.

Kontrol yang berubah-ubah pada game disini dilengkapi dengan sistem combo yang memungkinkan kamu untuk melakukan pembunuhan yang bersifat lebih kreatif. Kamu akan mendapatkan poin setiap kali kamu membunuh musuh, tapi poin tersebut akan berkali lipat saat kamu menggabungkan gerakan tersebut dengan aksi mutilasi sadis tambahan. Contoh, kamu bisa menjebak seorang musuh di tengah sebuah ban, kemudian menusuknya berkali-kali menggunakan tongkat papan penunjuk arah kemudian membanting mereka ke sebuah dinding yang penuh dengan duri. Seluruh kekejaman tersebut akan mendapatkan poin yang tentunya jauh lebih banyak daripada saat kamu hanya membunuh musuh langsung dengan menggunakan gergaji mesin. Sistem combo ini merupakan sebuah sistem yang wajib kamu perhatikan. Apabila tidak, maka nantinya perjalananmu akan menjadi lebih sulit, mengingat beberapa mini game dan pertarungan dengan bos tertentu baru akan bisa dilakukan saat kamu telah mencapai angka poin tertentu.
Untuk kisah game ini, diceritakan bahwa entah bagaimana caranya, Jack berakhir dengan berada dalam sebuah kota yang bernama Varrigan City dan di kota tersebut, teroris yang mengendalikan kota ini sedang mengadakan sebuah permainan yang dinamakan Death Watch. Seluruh penduduk kota yang tidak bersalah pun terpaksa harus ikut. Alasannya, teroris tersebut telah menyebarkan racun di udara. Hanya bagi mereka yang ikut bertarunglah yang akan mendapatkan obat penangkalnya. Biasanya, cerita dalam sebuah game yang bertema beat-em up tidak akan pernah terlalu bagus. Tapi tidak halnya dengan Madworld. Harus diingat, Yasumi Matsuni dari Final Fantasy lah yang menuliskan jalan ceritanya. Hasil akhirnya sudah dapat ditebak. Mengesankan.

Untuk pengisi suara, SEGA dan Platinum Games mengontrak pengisi suara Greg Proops dan John Dimaggio sebagai pengisi suara sang komentator dalam Death Watch. Mereka dapat dikatakan merupakan pengisi suara acara komentator yang cukup meyakinkan karena mereka berdua terasa begitu padu. Mereka sama sekali tidak takut untuk mengeluarkan kata-kata kotor atau bahkan menyinggung masalah istri orang dengan vulgarnya. Komedi yang terasa disini terasa tidak dibuat-buat. Game ini juga ditemani dengan lagu hip-hop yang terdiri dari 20 lagu yang terpilih dari beberapa artis penyanyi rap. Yang menjadi masalah untuk masalah suara disini adalah kalimat-kalimat yang diucapkan oleh para penjahat dalam game ini cenderung sama, sehingga kadang terasa sangat membosankan.

Sedangkan untuk lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permainan ini, Madworld hanya membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam jam untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, bagi mereka yang lebih mementingkan lama permainan, kamu perlu menjauh dari game ini. Tapi untuk kamu yang memiliki sifat perfeksionis, kamu mungkin akan mau memainkan game ini. Setelah kamu menyelesaikan game ini, Madworld akan memberikan beberapa tambahan seperti senjata setelah kamu menyelesaikan game ini dalam normal mode yang nantikan akan dapat kamu gunakan dalam hard mode. Sudah tentu akan tersedia juga mode untuk bermain bersama dengan teman menggunakan split screen.

Secara keseluruhan, kami menyimpulkan bahwa game ini adalah sebuah game yang sangat menyenangkan untuk dimainkan terutama oleh orang dewasa. Sangat tidak direkomendasikan untuk anak-anak di bawah umur. Dengan visual yang unik dan desain karakter yang juga sama unik ala Sin City, game ini menawarkan sebuah gameplay baru unik dimana kamu bisa dengan sesuka hati menghancurkan musuh dengan cara yang paling kamu sukai. Tapi ingat, game ini sama sekali tidak boleh dimainkan oleh anak-anak karena gameplay yang terlampau keras dan terlalu berdarah-darah.

Read More... “MadWorld”  »»

Kamis, 12 Maret 2009

Need For Speed: Shift, Rilis September 2009


Suka dengan game balap mobil , tunggu saja edisi NFS Shift. Rencananya keluar pada musim semi 2009 ini, dibawah tampilan gambar dari NFS Shift. Akan dirilis di 3 sistem yaitu XBox 360, PS3, dan PC.

Read More... “Need For Speed: Shift, Rilis September 2009”  »»

 

Gamers Zone Copyright © 2008 D'Black by Ipiet's Blogger Template